Mengenang Rendra di Rumah Puisi Taufiq Ismail
JAKARTA, KOMPAS.com - Mengenang budayawan WS Rendra (1935-2009), sastrawan Taufiq Ismail punya cara tersendiri. Di Rumah Puisi Taufiq Ismail di Nagari Aia Angek, di lereng Gunung Marapi, Kecamatan X Koto, Kabupaten Tanahdatar, Provinsi Sumatera Barat, digelar pembacaan puisi-puisi fenomenal Rendra.
"Pembacaan puisi disaksikan puluhan guru-guru bahasa dan sastra se-Sumatera Barat, yang tergabung dalam Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Sumbar," kata Muhammad Subhan, penggiat sastra di Rumah Puisi Taufiq Ismail, kepada Kompas.com, Senin (10/8).
Subhan menjelaskan, guru-guru pada pembacaan puisi, Minggu (9/8), tidak hanya sebagai penonton, tetapi juga sebagai pembaca puisi. Penyair Sumbar yang membacakan puisi antara lain Yusril dan Tatang Rukmana, yang mereka juga dosen di Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Padangpanjang. Dalam acara itu dibacakan sajak-sajak karya Rendra yang fenomenal, seperti Sajak Sebatang Lisong, Stanza, Kenangan dan Kesepian.
Sedangkan Ismail yang juga pendiri Rumah Puisi di Nagari Aie A ngek, menceritakan kenangan-kenangannya bersama Rendra yang merupakan sahabatnya. Bagi Taufiq, Rendra merupakan penyair yang kritis terhadap ketidakadilan yang dilakukan rezim pemerintah. Sikap kritis Rendra juga terbaca dalam sajaknya Sajak Sebatang Lisong yang beberapa hari terkahir dirilis beberapa media televisi nasional.
"Ketika Rendra terbaring sakit saya bersama Ati (istri Taufiq Ismail) sempat membezuknya. Dalam sakitnya Rendra tetap bersemangat," ujar Taufiq Ismail mengenang.
Bagi Taufiq Ismail, Rendra adalah seorang muslim sejati meski dia seorang muallaf. Sebelum memeluk Islam, Rendra mempelajari banyak agama dalam mencari kebenaran. Dalam suatu kesempatan, ujar Taufiq, dalam kunjungan ke Inggris, pada suatu Subuh Rendra mendengar suara adzan yang sangat merdu dan menggugah jiwanya.
"Ketika mendengar suara adzan itu Rendra menangis, dan saat itulah ia mantap memilih Islam dan menjadi penganutnya yang baik hingga wafatnya," ujar Taufiq.
Wafatnya Rendra, jelas Taufiq, di hari baik bulan baik yang tidak semua orang mendapatkannya. Rendra dipanggil Sang Khalik di malam Nisyfu sya'ban, malam Jumat, dan dishalatkan serta dimakamkan usai shalat Jumat.
Pada kesempatan tersebut juga diadakan acara melepas salah seorang guru terbaik Sumatera Barat, Drs. Risman, M.Pd., guru Bahasa dan Sastra Indonesia SMA Negeri 1 Baso, Kabupaten Agam. Risman terpilih menjadi guru Bahasa dan Sastra Indonesia dan mengajar disalah satu sekolah Kedutaan Indonesia di Negera Jepang.
"Pembacaan puisi disaksikan puluhan guru-guru bahasa dan sastra se-Sumatera Barat, yang tergabung dalam Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Sumbar," kata Muhammad Subhan, penggiat sastra di Rumah Puisi Taufiq Ismail, kepada Kompas.com, Senin (10/8).
Subhan menjelaskan, guru-guru pada pembacaan puisi, Minggu (9/8), tidak hanya sebagai penonton, tetapi juga sebagai pembaca puisi. Penyair Sumbar yang membacakan puisi antara lain Yusril dan Tatang Rukmana, yang mereka juga dosen di Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Padangpanjang. Dalam acara itu dibacakan sajak-sajak karya Rendra yang fenomenal, seperti Sajak Sebatang Lisong, Stanza, Kenangan dan Kesepian.
Sedangkan Ismail yang juga pendiri Rumah Puisi di Nagari Aie A ngek, menceritakan kenangan-kenangannya bersama Rendra yang merupakan sahabatnya. Bagi Taufiq, Rendra merupakan penyair yang kritis terhadap ketidakadilan yang dilakukan rezim pemerintah. Sikap kritis Rendra juga terbaca dalam sajaknya Sajak Sebatang Lisong yang beberapa hari terkahir dirilis beberapa media televisi nasional.
"Ketika Rendra terbaring sakit saya bersama Ati (istri Taufiq Ismail) sempat membezuknya. Dalam sakitnya Rendra tetap bersemangat," ujar Taufiq Ismail mengenang.
Bagi Taufiq Ismail, Rendra adalah seorang muslim sejati meski dia seorang muallaf. Sebelum memeluk Islam, Rendra mempelajari banyak agama dalam mencari kebenaran. Dalam suatu kesempatan, ujar Taufiq, dalam kunjungan ke Inggris, pada suatu Subuh Rendra mendengar suara adzan yang sangat merdu dan menggugah jiwanya.
"Ketika mendengar suara adzan itu Rendra menangis, dan saat itulah ia mantap memilih Islam dan menjadi penganutnya yang baik hingga wafatnya," ujar Taufiq.
Wafatnya Rendra, jelas Taufiq, di hari baik bulan baik yang tidak semua orang mendapatkannya. Rendra dipanggil Sang Khalik di malam Nisyfu sya'ban, malam Jumat, dan dishalatkan serta dimakamkan usai shalat Jumat.
Pada kesempatan tersebut juga diadakan acara melepas salah seorang guru terbaik Sumatera Barat, Drs. Risman, M.Pd., guru Bahasa dan Sastra Indonesia SMA Negeri 1 Baso, Kabupaten Agam. Risman terpilih menjadi guru Bahasa dan Sastra Indonesia dan mengajar disalah satu sekolah Kedutaan Indonesia di Negera Jepang.









