Home Berita Selesai Dibangun, Rumah Puisi Dipadati Kegiatan Kebudayaan

PostHeaderIcon Selesai Dibangun, Rumah Puisi Dipadati Kegiatan Kebudayaan

JAKARTA, MINGGU - Selesai dibangun pertengahan Desember 2008, Rumah Puisi, pusat kebudayaan yang diprakarsai sastrawan Taufiq Ismail, bertempat di Nagari Aia Angek, Kabupaten Tanahdatar, Sumatera Barat , dipadati berbagai kegiatan kebudayaan. Kegiatan perdana hari Jumat (19/12) diawali khataman Al-Quran oleh hafidz/hafidzah Sumatera Barat. Silaturahim sastrawan Indonesia yang berdomisili di Sumatera Barat diselenggarakan Sabtu (20/12).

Koordinator Pelaksana Rumah Puisi, Ati Taufiq Ismail mengatakan, hingga tanggal 19 Januari 2009, agenda kegiatan di Rumah Puisi sudah penuh. Masyarakat dan Pemerintah Provinsi Sumatera Barat sangat antusias merespon keberadaan Rumah Puisi yang berada di kaki Gunung Singgalang dan Gunung Marapi ini. "Kegiatan yang berskala nasional juga bisa digelar di Rumah Puisi, yang berada tak jauh dari jalan raya lintas tengah Sumatera, jalur Padangpanjang-Bukittinggi," kata Ati Taufiq Ismail, melalui telepon ke Kompas di Jakarta, Minggu (21/12).

Sebelumnya, Taufiq Ismail menjelaskan, pembangunan Rumah Puisi dimulai 20 Februari 2008 lalu. Modal awal pembangunan adalah (uang) dari perolehan hadiah sastra Habibie Award 2007 sebesar 25.000 dollar AS, setelah dipotong pajak menjadi Rp200 juta.

Ditambah hasil penjualan empat jilid buku Mengakar ke Bumi Menggapai ke Langit setebal 2.996 halaman , yang diluncurkan dalam rangka memperingati Taufiq Ismail 55 Tahun dalam Sastra Indonesia. Keinginan membangun Rumah Puisi membersit setelah selesai melaksanakan program Membaca, Menulis dan Apresiasi Sastra (MMAS), yang berlangsung selama enam hari di 12 kota, yang diikuti oleh 1.800 guru.

"Gagasan Rumah Puisi tumbuh dari pengalaman kolektif bersama tim redaktur (majalah sastra) Horison dan sahabat-sahabat sastrawan dalam 10 program gerakan membawa sastra ke sekolah, sejak 1998 hingga 2008 ini," katanya.

Taufiq dikenal sebagai sastrawan yang tak pernah lelah melakukan kegiatan pembangunan apresiasi sastra di sekolah melalui kegiatan yang dinamai Sastrawan Bicara Siswa Bertanya (SBSB). Ia memboyong sebuah tim yang terdiri dari 113 sastrawan dan 11 aktor-aktris dan menyebar mereka ke 213 SMA untuk membacaka n karya sastra dan bertanya jawab dengan siswa dan guru di 164 kota, 31 provinsi serta membentuk 30 sanggar sastra siswa di seluruh Indonesia.

Menurut Ati Taufiq Ismail, sudah menjadi cita-cita menghimpun kegiatan-kegiatan sastra dan kebudayaan di sebuah tempat, di mana pelatihan guru Bahasa dan Sastra Indonesia dapat diselenggarakan, sastrawan dapat berinteraksi dengan siswa dan guru, buku-buku dapat diakses dalam sebuah perpustakaan, sanggar sastra siswa difasilitasi dan beberapa kegiatan sejenis dilaksanakan, di tempat yang diberi nama Rumah Puisi. Fasilitas yang ada antara lain bangunan utama, area pementasan, rumah sastrawan tamu, musholla, dapur, gudang, dan ruang terbuka.

Ati menyebutkan, tanggal 21, 21, dan 24 Desember 2008 digelar pelatihan Bahasa dan Sastra Indonesia SMA dan sekolah sederajad di Sumatera Barat. Pengisi pelatihan adalah Taufiq Ismail, Pemimpin Redaksi Majalah Sastra Horison Jamal D Rahman, Kritikus Sastra Maman S Mahayana, dan sejumlah sastrawan setempat. Akan hadir pula sastrawan tamu Rumah Puisi, Ahmad Tohari dan D Zawawi Imron.

"Pelatihan akan memberikan paradigma baru dalam pengajaran sastra, yaitu mengajarkan sastra secara menyenangkan," paparnya.

Sedangkan tanggal 26 Desember mendatang, digelar Pertemuan Sanggar Sastra Siswa Indonesia (SSSI) se-Sumatera Barat. SSSI adalah sanggar sastra untuk siswa, didirikan oleh majalah sastra Horison di enam SMAN, yaitu di Bukittinggi, Payakumbuh, Batusangkar, Solok, Baso, dan Padangpanjang. Dalam pertemuan itu para anggota sanggar akan berdialog dengan beberapa sastrawan, dan akan tampil membacakan puisi. Di seluruh Indonesia SSSI yang didirikan Horison berjumlah 30 sanggar.

Ketua Dewan Kesenian Sumatera Barat Harris Effendi Thahar, yang dihubungi terpisah di Padang, mengatakan, kehadiran Rumah Puisi sangat positif untuk perkembangan intelektual dan perkembangan sastra sekaligus penulisan karya sastra di Indonesia.

Geliat sastra dan intelektualitas di Indonesia ke depan akan semakin baik, karena begitu padatnya agenda yang digelar di Rumah Puisi, seperti mendatangkan dua sastrawan tamu untuk memberikan pelatihan selama satu bulan. "Sastrawan tamu pertama adalah Ahmad Tohari dan D Zawawi Imron," kata Harris Effendi Thahar, yang juga dikenal sebagai cerpenis.