Rumah Puisi Taufiq Ismail Gelar Lomba Menulis Cerpen Antar Guru
padangmedia.com - PADANGPANJANG - Rumah Puisi Taufiq Ismail menggelar Lomba Menulis Cerita Pendek (Cerpen) antar guru Sekolah Menengah Atas (SMA) se Sumatera Barat 2009. Lomba ini merupakan lomba pertama yang digelar Rumah Puisi sejak berdiri pada Desember 2008 lalu di Nagari Aie Angek Kabupaten Tanah Datar, tidak jauh dari Kota Padangpanjang.
Ketua Panitia Lomba, Yusrizal KW didampingi Sekretaris Muhammad Subhan kepada padangmedia.com di Padangpanjang, Senin (27/4), menyebutkan, persyaratan cerpen yang diikutsertakan dalam lomba ini merupakan karya asli dan belum pernah dipublikasikan di media massa. Cerpen ditulis dengan huruf standar (Times New Roman 12 pt) dengan jarak 1,5 spasi, kertas A4, dengan panjang 7-15 halaman.
Naskah cerpen dikirim 5 rangkap ke alamat Rumah Puisi, Nagari Aie Angek, Jalan Raya Padangpanjang-Bukittinggi Km 6, Kabupaten Tanah Datar, paling lambat anggal 16 Juli 2009 (stempel pos).
Peserta lomba juga harus mencantumkan identitas (nama lengkap, alamat sekolah dan lama mengajar). Pemenang akan diumumkan pada tanggal 9 Agustus 2009 di sejumlah media harian di Sumatera Barat.
Disebutkan Yusrizal, dewan juri lomba ini terdiri dari sastrawan nasional, yaitu Taufiq Ismail, Wisran Hadi, Harris Effendi Thahar, Upita Agustine dan Gus tf Sakai. Cerpen pemenang yang terpilih sebagai karya terbaik akan mendapatkan hadiah menarik, berupa Juara 1 Rp3 juta, Juara 2 Rp2 juta dan juara 3 Rp1 juta. Di samping itu, 17 karya guru terbaik masing-masing akan mendapatkan hadiah Rp500 ribu, dan Juara 1 sampai 3 dan 17 terbaik, asing-masing akan menerima piagam, bingkisan buku dan mengikuti pelatihan yang akomodasi, konsumsi serta transportasinya ditanggung Rumah Puisi
Menurut Ati Ismail, Istri Taufik Ismail yang juga bendahara panitia, lomba ini bertujuan untuk memilih 20 guru yang akan diikutsertakan dalam pelatihan Membaca, Menulis dan Apresiasi Sastra (MMAS) di Rumah Puisi pada waktu yang akan ditentukan. Rumah Puisi Taufiq Ismail sejak berdiri telah memulai sejumlah kegiatan khususnya melatih sejumlah guru. Selain 7.000 buku koleksi Taufiq Ismail, Rumah Puisi juga menyediakan ruang untuk pelatihan atau diskusi, termasuk mengundang sastrawan tamu yang nantinya bisa berdialog dengan masyarakat atau pencinta sastra di Ranah Minang.
Ketua Panitia Lomba, Yusrizal KW didampingi Sekretaris Muhammad Subhan kepada padangmedia.com di Padangpanjang, Senin (27/4), menyebutkan, persyaratan cerpen yang diikutsertakan dalam lomba ini merupakan karya asli dan belum pernah dipublikasikan di media massa. Cerpen ditulis dengan huruf standar (Times New Roman 12 pt) dengan jarak 1,5 spasi, kertas A4, dengan panjang 7-15 halaman.
Naskah cerpen dikirim 5 rangkap ke alamat Rumah Puisi, Nagari Aie Angek, Jalan Raya Padangpanjang-Bukittinggi Km 6, Kabupaten Tanah Datar, paling lambat anggal 16 Juli 2009 (stempel pos).
Peserta lomba juga harus mencantumkan identitas (nama lengkap, alamat sekolah dan lama mengajar). Pemenang akan diumumkan pada tanggal 9 Agustus 2009 di sejumlah media harian di Sumatera Barat.
Disebutkan Yusrizal, dewan juri lomba ini terdiri dari sastrawan nasional, yaitu Taufiq Ismail, Wisran Hadi, Harris Effendi Thahar, Upita Agustine dan Gus tf Sakai. Cerpen pemenang yang terpilih sebagai karya terbaik akan mendapatkan hadiah menarik, berupa Juara 1 Rp3 juta, Juara 2 Rp2 juta dan juara 3 Rp1 juta. Di samping itu, 17 karya guru terbaik masing-masing akan mendapatkan hadiah Rp500 ribu, dan Juara 1 sampai 3 dan 17 terbaik, asing-masing akan menerima piagam, bingkisan buku dan mengikuti pelatihan yang akomodasi, konsumsi serta transportasinya ditanggung Rumah Puisi
Menurut Ati Ismail, Istri Taufik Ismail yang juga bendahara panitia, lomba ini bertujuan untuk memilih 20 guru yang akan diikutsertakan dalam pelatihan Membaca, Menulis dan Apresiasi Sastra (MMAS) di Rumah Puisi pada waktu yang akan ditentukan. Rumah Puisi Taufiq Ismail sejak berdiri telah memulai sejumlah kegiatan khususnya melatih sejumlah guru. Selain 7.000 buku koleksi Taufiq Ismail, Rumah Puisi juga menyediakan ruang untuk pelatihan atau diskusi, termasuk mengundang sastrawan tamu yang nantinya bisa berdialog dengan masyarakat atau pencinta sastra di Ranah Minang.









