Cerita pendek dengan judul pembayaran listrik

Pembayaran listrik

Tepat tanggal 20 juli hari ini saya duduk dalam kamar yang tidak begitu mewah bahkan jauh dari kata sederhana. Datang seorang ibu dengan berpakaian yang masih dengan pakaian tidurnya iya mendatangi setiap kamar dan mengajaknya berbicara saya heran kenapa iya sepagi ini kepondokan. Ternyata iya adalah ibu yang punya rumah yang saya tempati sekarang.

Iya datang dengan membawa sebuah catatan kecil ditangannya iya kemudian melihat saya dan juga memanggil. Dengan senyum saya datang menghampirinya iya kemudian menunjukkan secercak tulisan bertuliskan angka nominal. Iya bertanya padaku dengan kata lembut yang diucapakan kapan kamu bayar listrik saya berucap balik padanya dimana pembayaran bisa saya lihat. Iya kemudian menunjuk sebuah tembok yang di atasnya ada tempelan kertas, nanti saya lihat dan bayar kalo sudah punya uang kataku. Iya kembali berucap jangan lama karna ini akan berakhir atau listriknya akan di gembok nanti katanya.

Saya kemudian datang membaca hasil tulisan tangannya saya kaget melihat harga listrik yang pantastis yang akan saya bayar. Oh iya sebelum di lanjut baiknya saya perkwnlkan diri dulu saya asli orang maros, kuliah di salah satu instansi negeri di Makassar. Saya sudah termasuk mahasiswa tua di kampus karna sudah melewati batas yang seharusnya dan biasanya di lakukan oleh mahasiswa seperti saya. Saya tinggal di Makassar di sebuah pondokan dengan nama pondok kiki. Rumah panggung yang dibuat berkamar-kamar. Saya tinggal di sini juga sudah lama. Itu mungkin cukup untuk perkenalannya.

Kembali keleptop saya d tagih pembayaran listrik sebesar seratus lima puluh ribu sebuah harga pantastis bagi mahasiswa seperti saya. Ini uang makan selama sepuluh hari pikirku tiba-tiba disuruh bayar saya pun merasa keberatan sementara saya gunakan listrik hanya lampu satu buah kipas angin dan sebuah reskuker “malas tulis inggrisnya” ini merupakan hal yang tidak mungkin bagi saya.
Sebuah kekecewaan yang mendalam dan rasa kaget terhadap apa yang ada sekarang.

Penulis berharap pembaca bisa mendalami maksudnya sehingga bisa merasakan bentuk kekecewaan penulis terhadap apa yang harusnya dengan yang sewajarnya.

Facebook Comments
bagikan ya Sobat di....Share on FacebookPin on PinterestShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn
Cerita pendek dengan judul pembayaran listrik | Rumah Puisi | 4.5