Latar Belakang RUMAH PUISI
RUMAH PUISI gagasan penyair Taufiq Ismail dan isterinya Ati, tumbuh dari pengalaman kolektifnya bersama tim redaktur Horison dan sahabat-sahabat sastrawan se Indonesia dalam 10 program gerakan membawa sastra ke sekolah, sejak 1998 hingga 2008. Melatih sekitar 2000 ribu guru dalam program MMAS (Membaca Menulis dan Apresiasi Sastra) 6 hari di 11 kota; dengan tim 113 sastrawan dan 11 aktor-aktris masuk ke 213 SMA membacakan karya sastra dan bertanya-jawab dengan siswa dan guru di 164 kota yang terletak di 31 provinsi dalam kegiatan SBSB (Sastrawan Bicara Siswa Bertanya), menyalurkan tulisan siswa dan guru dalam sisipan Kakilangit selama 11 tahun dalam majalah sastra Horison, menerbitkan 8 antologi puisi, cerpen, fragmen novel dan drama serta esai (tiras total 37.000 eksemplar, tebal 2.280.120 halaman) yang dikirim ke 4.500 perpustakaan SMA Negeri dan Swasta (2000-2004), membentuk 30 sanggar sastra siswa di seluruh Indonesia, adalah anrtara lain gugusan program tersebut yang sudah dilaksanakan. Tujuan gerakan itu adalah meningkatkan budaya baca buku dan kemampuan menulis anak bangsa.
Apabila seluruh gerakan itu memancar dari ibukota ke 164 kota seluruh Indonesia, maka menjadi cita-citanya mencoba menghimpun kegiatan tersebut di sebuah titik lokasi, diberi nama RUMAH PUISI, tanpa menghentikan atau mengganti kegiatan yang sudah terselenggara sejak 1998 hingga kini. Dengan modal awal 7000 judul buku, yang kelak diharapkan bertambah terus.
Di RUMAH PUISI kegiatan akan berlangsung sebagai berikut:
- Pelatihan guru Bahasa dan Sastra Indonesia
- Kegiatan membaca dan berlatih menulis siswa Sanggar Sastra
- Kegiatan apresiasi sastrawan Indonesia dan MInangkabau
- Akses buku-buku perpustakaan
- Sastrawan Tamu dari daerah lain diundang bermukim 15 hari - 1 bulan
- Interaksi antar sastrawan dengan guru dan siswa
- Interaksi antar sastrawan






